Showing posts with label Zaman Fitnah. Show all posts
Showing posts with label Zaman Fitnah. Show all posts

Sunday, 13 November 2016

Kaki Tangan Dajjal Mencengkram Indonesia

Dajjal adalah pemimpin Yahudi yang dijanjikan akan muncul di akhir zaman. Dia termasuk salah satu makhluk Allah yang ditangguhkan usianya hingga waktu tertentu. Selama masa persembunyiaannya, Dajjal terus menyusun rencana, strategi dan makar agar di hari kemunculannya Dia benar-benar dipertuhankan oleh manusia. Sangat mustahil jika keluarnya Dajjal di dunia yang hanya 40 hari –dengan tiba-tiba- dia menjadi pemimpin yang sangat ditaati, ditakuti dan dipuja banyak manusia. Tidak mungkin manusia akan tunduk dan takluk seketika –dengan sepenuh hati dan jiwa- pada sosok manusia yang sama sekali belum diketahui. Terlebih bahwa terminologi Dajjal selalu identik dengan keburukan, kejahatan, kebusukan dan lambang kerusakan.

Jika seperti ini hakikat Dajjal yang sesungguhnya (jahat, kotor, busuk, licik dan durjana), mengapa di akhir zaman kelak manusia akan bercita-cita untuk bergabung dengan Dajjal ? mengapa kaum wanita akan berbondong-bondong untuk menjadi pengikut setianya ? mengapa orang mukmin yang memiliki iman terkuat sekalipun disarankan untuk tidak mendekatinya ? bahkan orang-orang munafik termasuk yang fasik dari penduduk Madinah juga akan ikut bergabung dengan Dajjal ?

Fenomena di atas jelas-jelas menggambarkan bahwa Dajjal telah melakukan penetrasi ideologi secara terus-menerus dan simultan selama berabad-abad. Kaki tangan Dajjal terus bekerja selama ribuan tahun dengan gaya dan strategi yang memungkinkan manusia tidak lagi menolak Dajjal sebagai sosok pemimpin akhir zaman. Kaki tangan Dajjal akan terus menebar jaring-jaring fitnahnya (materialisme – atheisme – zionisme) sehingga seluruh dunia tidak lagi berkutik melawannya. Tokoh-tokoh pemimpin dunia terus dimunculkan Dajjal untuk menggiring opini agar dunia tunduk di bawah keinginnnya. Berbagai kebijakan internasional, sistem pengendalian dunia, dan tatanan negara dimanapun selalu dibawa untuk mendukung kebijakan sistem Dajjal ini.

Sai Baba mungkin saja tertuduh sebagai Dajjal, atau hanya salah satu dajjal-dajjal pendusta yang dijanjikan. Meski berbagai ‘kemampuan’ yang dimilikinya mirip dengan yang dilakukan oleh Dajjal, tetapi bahayanya bagi umat Islam justru terletak pada ideologi yang dibawanya. Apa yang ditawarkan oleh Sai Baba dari berbagai ritual dan ajarannya, itulah yang saat ini sedang mengepung umat Islam di Indonesia. Beragam ideologi sesat yang mengepung umat Islam menjelaskan adanya indikasi upaya sistematik kaki tangan Dajjal untuk menancapkan kuku kekuasaannya. Berbagai paham dan ideologi yang menjadi perpanjangan Zionis-Yahudi terus ditebar. Tujuannya; agar seluruh manusia bersedia untuk menyambut Sang Dajjal jika hari yang dijanjikan telah tiba.

Sumber : granada media tama

Friday, 23 September 2016

Kisah As-Sufyani (Diktator Yang Mengejar Al-Mahdi)

Sebelum kedatangan Imam Mahdi akan muncul keluarga Sufyani. Mereka sangat keji, suka membunuh, dan tidak pernah beribadah kepada Allah. Ada salah satu hadist yang membuktikannya.

Hudzaifah al-Yamani (ra) meriwayatkan, Sesungguhnya Nabi (SAW) pernah menyebutkan fitnah yang akan terjadi antara orang Timur dan Barat. Beliau (SAW) pernah berkata, ….kita juga akan mendapatkan ujian, (yaitu) akan muncul Sufyani dari bukit tandus. Ia berkuasa di Damaskus, kemudian mengutus dua bala tentara. Tentara pertama diperintahkannya menuju ke arah timur, sedangkan tentara kedua menuju ke Madinah, Ketika mereka sampai di negara Baylonia, tepatnya di sebuah kota yang dilaknat, mereka membunuh lebih dari 3000 jiwa. Dan memperkosa tak kurang dari 100 orang wanita. Mereka menymbelih 300 kambing milik sebuah kaum Bani Abbas.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (ra), ia berkata, Sufyani akan muncul dan melakukan peperangan, mereka membelah perut-perut wanita hamil dan memasak bayi-bayi mungil dalam kuali besar.
Sabda Nabi SAW, “Sebelum (munculnya) al-Mahdi, as-Sufyani akan muncul bersama-sama 360 pasukan (tentera) berkuda, kemudian dengan diiringi oleh 30,000 (tentera) yang dipimpin oleh Kalb, iaitu bapa saudaranya. As-Sufyani kemudian mengerahkan askarnya ke Iraq. Dalam serangan ini, 100,000 orang terbunuh di Zaurak, iaitu suatu kota di Timur. Setelah itu, mereka menyerbu Kufah. Lantas (ketika itu) muncullah Panji-panji (Hitam) dari Timur. Yang memegang benderanya ialah seorang Pemuda dari Bani Tamim yang digelarkan Syuaib bin Saleh. Dia (at-Tamimi itu) kemudian menyerang sekelompok tawanan daripada penduduk Kufah dan membunuh semuanya. Setelah itu as-Sufyani mengerahkan sebahagian tenteranya (pergi menyerang) Madinah. Mereka terus menyerang Madinah selama tiga hari lalu menuju ke Makkah. Ketika mereka sampai di al-Baidak, Allah memerintahkan Jibril supaya menghentakkan kakinya dengan sekali hentakan, yang mana dengan hentakan itu, mereka jadi terbenam ke dalam bumi sehingga tidak berbaki melainkan dua orang yang kemudian menyampaikan (perihal) peristiwa tersebut kepada as-Sufyani. Tetapi as-Sufyani tidak menghiraukannya. Lalu dia mengirimkan dua orang (keturunan) Parsi untuk meminta bantuan (kerajaan Romawi) menaklukkan Kostantinopel. Oleh raja Romawi, permintaannya ini segera dikabulkan (lalu dihantar pasukan tentera yang ramai untuk membantu). Tetapi ketika kedua-dua orang (utusan) ini sampai di pintu gerbang Damsyik, mereka dibunuh orang. Selain itu, as-Sufyani juga membunuh orang yang mengingkari dirinya, bahawa ada seorang perempuan duduk-duduk di atas pahanya di pintu gerbang di Damsyik. Ketika itulah terdengar satu seruan dari langit, “Wahai (sekalian) manusia, sesungguhnya Allah telah membinasakan orang-orang yang zalim, orang-orang munafik dan sekutu-sekutu mereka. Allah telah mengangkat seorang yang terbaik dari umat Muhammad SAW sebagai pemimpin kamu semua. Oleh itu, sambutlah dia di Makkah. Dia adalah al-Mahdi yang bernama Ahmad bin Abdullah.” Lalu ada satu pertanyaan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami dapat mengenalinya?” Jawab baginda, “Dia adalah dari keturunanku, iaitu perawakannya seakan-akan Bani Israel, kulitnya kemerah-merahan seolah-olah wajahnya bercahaya laksana bintang, pipi kanannya bertahi lalat hitam (yang hidup). Dia tampan orangnya, berusia 40 tahun. Dia akan didatangi oleh Wali-wali Abdal dari Syam, Wali-wali Nujabak dari Mesir, Asoib dari Timur dan pengikut-pengikutnya. Mereka kemudian pergi ke Makkah bersama-sama, lantas (setelah membaiat Imam Mahdi) berangkat (pula) ke Syam. Waktu itu, Jibril berada di depannya dan Mikail berada di belakangnya. Penghuni langit, penduduk bumi, burung-burung, binatang buas dan ikan-ikan di laut semuanya suka/redha kepadanya. Air menjadi mudah (didapati) di mana-mana negeri pun yang dikuasainya, sungai-sungainya mengalir (deras dan banyak), harta karun (melimpah ruah dan) mudah didapati. Dia lantas pergi ke Syam dan menyembelih as-Sufyani di bawah pokok yang dahan-dahannya (menjulur) sampai ke Laut Tibriyah.”

Sabda Nabi SAW, "Seorang lelaki bernama As-Sufyani akan datang dari tengah kota Damsyik. Kebanyakan tenteranya adalah dari Bani Kalb. Dia akan membunuh (ramai orang) sehingga memperkosa wanita dan membunuh kanak-kanak. Maka datanglah suatu kaum dari Qais lalu membunuh mereka semuanya. Kemudian keluarlah seorang lelaki dari ahli keluargaku di Al-Hirrah dan berita itu sampai kepada As-Sufyani. Dia segera menghantar pasukan tenteranya tetapi menderita kekalahan (teruk). As-Sufyani bangun memimpin sendiri pasukan tenteranya sehingga mereka sampai di kawasan gurun lalu ditelan oleh bumi.”


Kerancuan gambaran dari kedua berita ini adalah “Ketika mereka sampai di al-Baidak, Allah memerintahkan Jibril supaya menghentakkan kakinya dengan sekali hentakan, yang mana dengan hentakan itu, mereka jadi terbenam ke dalam bumi sehingga tidak berbaki melainkan dua orang yang kemudian menyampaikan (perihal) peristiwa tersebut kepada as-Sufyani. Tetapi as-Sufyani tidak menghiraukannya.” Dengan “Kemudian keluarlah seorang lelaki dari ahli keluargaku di Al-Hirrah dan berita itu sampai kepada As-Sufyani. Dia segera menghantar pasukan tenteranya tetapi menderita kekalahan (teruk). As-Sufyani bangun memimpin sendiri pasukan tenteranya sehingga mereka sampai di kawasan gurun lalu ditelan oleh bumi”

Tuesday, 13 September 2016

Hal Ini Lebih Berbahaya Dari Dajjal

Fitnah Dajjal adalah fitnah terbesar semenjak Allah Ta’ala menciptakan Adam sampai hari kiamat. Keluarnya Dajjal termasuk di antara rangkaian tanda-tanda besar munculnya hari kiamat. Allah Ta’alamenciptakannya disertai beberapa kemampuan di luar kemampuan manusia biasa. Hal tersebut menjadikan akal terkagum-kagum sehingga menjadi bingunglah sebagian manusia yang melihatnya. Telah diriwayatkan dalam hadits shahih bahwasannya Dajjal membawa kebun dan api. Apinya adalah kebun sedangkan kebunnya adalah api. Dia peritahkan langit untuk menurunkan hujan dan menyuruh bumi agar menumbuhkan berbagai tumbuhan. Dajjal telah menutup kebenaran dengan kebathilan serta menutup kekufurannya dengan kebohongan. Kemampuannya yang hebat tersebut menimbulkan kerancuan yang membingungkan akal, sehingga membuat sebagian manusia tertipu darinya.
Besarnya fitnah yang disebabkan Dajjal menyebabkan hal tersebut menjadi perbincangan para sahabat. Mereka khawatir dan takut fitnah tersebut menimpanya. Tatkala Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallammenjumpai mereka dalam keadaan demikian, ia kabarkan suatu hal yang jauh lebih beliau khawatirkan daripada fitnah Dajjal!. “Maukah aku kabarkan suatu hal yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Al Masiih Ad Dajjal? Tentu Wahai Rasulullah, jawab para sahabat. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallammelanjutkan, Hal tersebut adalah Syirik Khafiy (Syirik yang tersamar)” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dinilaihasan oleh Al Albani). Dalam riwayat lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian (para sahabat) adalah syirik asghar. Para Sahabat bertanya apa itu? Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Riya” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dinilai shahih oleh Al Albani).
Pengertian Riya
Riya adalah seseorang memperbagus dan menghiasi ibadah yang dia lakukan, agar orang lain melihatnya. Tujuannya adalah pujian dan sanjungan manusia atau maksud lain yang semisal (I’anatul Mustafiid hal. 646). Jadi maksud pembahasan riya di sini fokus pada Ibadah yang asas pokoknya adalah keikhlasan untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Orang yang riya berarti ia memalingkan asas tersebut dengan tidak semata-mata mengharapkan ridha Allah atas ibadah yang dilakukan, sehingga perbuatan itu termasuk kesyirikan.
Perbuatan riya termasuk Syirik Khafiy (tersamar) yang menjangkiti niat dan tujuan pelakunya, meskipun secara dzahir dia beribadah kepada Allah Ta’ala. Termasuk jenis Syirik Khafiy adalah sum’ah, yaitu seseorang beribadah agar manusia mendengarkannya. Syaikh ibnu utsaimin rahimahullah dalam kitab Al Qoul Al Mufiid mengatakan termasuk beribadah dengan tujuan ingin dilihat manusia adalah seseorang beribadah agar manusia mendengarkannya. Pelakunya disebut musammi’ (orang yang melakukan sum’ah).
Riya dan Sum’ah keduanya adalah perbuatan syirik. Memiliki kesamaan dalam tujuan ibadah, yaitu sebatas mengharapkan pujian atau sanjungan manusia. Adapun perbedaannya terdapat pada jenis ibadah yang dilakukan. Riya menjangkiti ibadah badan contoh memperbagus shalat dihadapan orang lain, sedangkan sum’ah menjangkiti ibadah lisan semacam memperindah bacaan Al Quran di hadapan manusia.
Pembagian dan Hukum Riya
Hukum asal riya adalah Syirik Asghar (syirik kecil) yang tidak mengeluarkan pelakunya dari islam. Namun apabila riya dilakukan di seluruh amal ibadah, dia sama sekali tidak mengharapkan ridha Allah Ta’ala di setiap ibadahnya serta tujuan dari seluruh ibadahnya hanya untuk diterima masyarakat atau agar harta dan darahnya terjaga, maka yang semisal ini adalah perbuatan riya orang munafik. Dan ini termasuk kedalamSyirik Akbar (Syirik besar yang mengeluarkan dari Islam). Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, maka Allah membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud untuk dilihat orang (Riya), tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit” (QS. An Nisa: 142). (I’anatul Mustafiid).
Bahaya Riya
1.     Riya Termasuk Perbuatan Syirik
Setiap dosa yang dilakukan manusia memiliki tingkatan. Dosa terbesar yang dilarang syariat adalah kesyirikan, dan
 riya termasuk syirik asghar. Sehingga tatkala seseorang melakukan riya, berarti ia telah melakukan perbuatan dosa yang jauh lebih berbahaya, lebih berdosa, dan lebih mengerikan ancaman siksaanya dibandingkan zina, riba, mencuri, atau minum khamr.
2.     Dosa Riya Tidak Diampuni
Allah
 Ta’ala berfirman (artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa (tingkatannya) di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar” (QS. An Nisa: 48).
Rasulullah
 shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berjumpa dengan Allah Ta’ala dalam keadaan tidak menyekutukanNya (syirik) dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk surga. Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyekutukanNya maka dia akan masuk neraka(HR. Muslim). Adapun pelaku riya maka diancam dengan neraka (At Tamhiid). Karena riya termasuk kesyrikan, maka pelakunya tidak akan diampuni kecuali dengan taubat yang sebenar-benarnya sebelum pintu taubat ditutup.
3.     Riya Menghapus Amalan yang tercampurinya
Dalam hadits
 qudsiy diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dan dia menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain (dalam amalnya), maka Aku akan tinggalkan dia dengan amalannya” (HR. Muslim).
4.     Termasuk Syirik Khafiy
Riya
 disifati sebagai perbuatan syirik khafiy (samar) yang menjangkiti hati dan tujuan pelakunya. Perbuatan syirik ini tersamar karena tidak ada yang mengetahui kandungan hati seseorang kecuali AllahTa’ala (Al Qoul Al Mufiid). Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengkhawatirkan para sahabatnya terhadap riya, padahal mereka memiliki tingkat keimanan yang tinggi dan merupakan sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan Rasul. Maka kita generasi yang jauh dari masa sahabat harus lebih takut terkena riya dan waspada darinya.
5.     Lebih Berbahaya Daripada Fitnah Dajjal
Rasulullah
 shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih mengkhawatirkan riya menjangkiti para sahabatnya, karena keikhlasan dalam ibadah adalah perkara yang sangat sulit. Sebagian salaf (orang shalih terdahulu) berkata, “Tidaklah aku curahkan segenap kemampuanku sebesar perjuanganku untuk mengikhlashkan amal” (Al Qoul Al Mufiid). Fitnah riya sebabnya samar dan dapat menjangkiti siapapun, baik ia seorang ulama ataupun orang biasa. Kecuali bagi orang yang mendapatkan rahmat dan pertolongan dari AllahTa’ala. Sedangkan fitnah Dajjal kelak dengan izin Allah Ta’ala tidak akan berpengaruh pada orang-orang beriman.
Beberapa Contoh Perbuatan Riya
1.     Memperbagus ibadah di hadapan manusia agar dapat predikat sebagai ahli ibadah.
2.     Mengunggah foto saat berdo’a di depan ka’bah agar orang-orang tau dirinya baru pulang haji atau umrah.
3.     Merendahkan dirinya di hadapan manusia dengan tujuan agar mendapat pujian sebagai orang yang tawadhu.
Di antara cara mengobati Riya
Beberapa kiat untuk mengobati riya (Tauhid Muyassar dan beberapa tambahan)
1.     Mengingat keutamaan orang-orang yang berbuat ikhlas yang syaithan tidak akan mampu menyesatkan
2.     Bersungguh-sungguh dalam mengikhlaskan amal, tidak merasa nyaman ketika di pertengahan amal tertimpa penyakit riya¸ bahkan segera meninggalkan perasaan riya tersebut
3.     Mengingat keagungan Allah Ta’ala karena Ia tidak membutuhkan amalan hambaNya
4.     Mengingat berbagai dampak negatif dan bahaya riya
5.     Mengingat negeri akhirat, kematian, siksa kubur, dan gelapnya kubur serta siksa neraka
6.     Meyakini bahwasannya ridha manusia tidak dapat mendatangkan manfaat maupun bahaya baginya
7.     Berdo’a kepada Allah Ta’ala dengan doa yang dituntunkan, “Allahumma inni a’uudzubika an usyrika bika syaian wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’alamu” Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui (sadari) (HR al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” dari Abu Ya’la, dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).
Tanda-Tanda Keikhlasan
1.     Suka menyembunyikan amalan yang tidak perlu untuk ditampakkan. Allah Ta’ala berfirman (artinya) “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah : 271)
2.     Selalu menuduh diri kita dengan kekurangan. Tidak memuji dirinya sendiri apabila dia dapati kebaikan padanya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mendapatkan kebaikan hendaknya ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang menjumpai selain itu, janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri” (HR. Muslim)
3.     Tidak menanti balasan dan ucapan terima kasih dari orang lain, karena yang diharapkannya hanya Wajah Allah Ta’ala. “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak mengharapkan balasan darimu dan tidak pula ucapan terima kasih” (QS. Al Insan: 9)
4.     Sikapnya sama saja ketika mendapat pujian atau celaan. Apabila dipuji tidak menambah kerajinannya dan jika dicela tidak mengendorkan dirinya dari beramal
Penutup
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah. Riya adalah penyakit yang muncul karena kejahilan hati. Penyakit ini sulit untuk ditinggalkan, karena sudah menjadi tabi’at manusia mencintai pujian. Padahal hakikat dari pujian manusia kebanyakan adalah tipuan. Bagaimana bisa anda dipuji sebagai orang shalih? Padahal ketika anda sendirian anda bermaksiat kepadaNya. Mengikhlaskan amalan adalah sebuah kewajiban. Suatu amal tidak akan diterima tatkala tercampuri padanya riya, meskipun dalam prosentase 0.00001 %. Meskipun demikian kita harus meyakini bahwasannya tidaklah kewajiban datang kecuali kita memiliki kesanggupan untuk melaksanakannya. Karena Allah Ta’ala tidak membebankan kewajiban di luar batas kemampuan seseorang. Dengan bersikap pertengahan mari kita berusaha untuk selalu waspada terhadap bahaya riya.Wallahu muwaffiq


Friday, 2 September 2016

Dahsyatnya Ad-Dukhan (Asap), Adzab bagi Manusia

           
Sudah diketahui tanda asap dan Dajjal adalah dua tanda dari sekian banyak tanda-tanda kiamat besar. Bahasan ini berisi ijtihad dalam memahami apa yang memahami apa yang dimaksud dengan tanda asap. Ijtihad ini dilakukan bedasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tanda-tanda hari Kiamat. Sebagai tambahan, sebagai disertakan sejumlah atsar ulama salaf yang menunjukkan sehunungan tanda ini dengan di jatuhkannya serpihan dari langit, kemudian di sempurnakan pula dengan sejumlah indikasi yang berkenaan dengan bahasan ini sevagai pelengkap dari pendahuluan keempat pada bahasan yang lalu tentang deskripsi tanda-tanda kemunculan Dajjal. Tentunya ijtihad kepastian. Penjelasan secara terperinci itu terdapat pada dua pokok pembicaraan berikut :

Allah Subhanahu Wata’ala berkalam
Maka tunggulah ketiaka langit membawa asap yang nyata. Yang meliputi manusia. Inilah siksa yang pedih. (Mereka berdo’a), “Wahai pemelihara kami, lenyapkanlah dari kami adzab itu. Sesungguhnya kami akan berman. “Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan. Kemudian mereka berpaling kepadanya dan berkata, “Dia adalah seorang yang menerima ajaran(dari orang lain) lagi pula seorang yang gila. “Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu sedikit dari kalian pasti akan kembali(ingkar).(Ad-Dukhan [44]: 10-15)

Penjelasan

1.     Kalam Allah Subhanahu Wata’ala kepada Nabi-Nya: “Maka Tunggulah....”, ini merupakan bahwa tanda ini pasti terjadi, tidak bisa tidak
2.     Dari ayat ini didapatkan kejelasan bahwa asap itu menyelimuti manusia. Penyelimutan itu mengandung sejumlah makna, diantaranya, diantaranya makna mendatangi, menutupi , dan ketakutan.(silahkan lihat Ibnu Manzhur: Lisan Al-‘Arab 15/126 dan sesudahnya)
3.     Penyifatan asap dengan siksa yang pedih itu merupakan petunjuk yang jelas, asap tersebut sebagai hukuman yang mengerikan yang menimpa manusia. Karena yang memberikan sifat siksa ini sebagai adzab yang pedih dan menyakitkan.
4.     Kalam Allah bahwa dia akan menghilangkan siksa itu sebentar mengisyaratkan peristiwa ini dekat waktunya dengan kiamat, yang merupa kan bencana besar. Inilah makna yang paling jelas yang di tunjukkan oleh ayat-ayat tersebut, yang menunjukkan asap sejati yang jelas, tidak diragukan lagi walau hanya dinyatakan oleh dua orang sekalipun itu adalah asap. Asap ini akan menerpa bumi dan menutupi pandangan manusia..Oleh karena itu orang-orang berdoa  dan berlindung kepada Allah agar Dia menghilangkan adzab itu dari mereka.


Wednesday, 31 August 2016

Akan Terjadi Hujan Meteor Di Akhir Zaman

Hujan bebatuan dari langit adalah hukuman yang masih akan berlangsung sampai masa mendatang. Allah Swt
 berfirman :
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ
كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya). (QS. Al-An’am [6]: 65)

Menafsirkan ayat tersebut, shahabat Ubay bin Ka’ab mengatakan: ‘Keempat hal ini adalah siksaan dan keempatnya akan pasti terjadi. Dua hal telah terjadi, yaitu dua puluh lima tahun setelah wafatnya Nabi SAW. Keduanya adalah mereka ditimpa perpecahan menjadi berbagai golongan, lalu satu sama lainnya saling menimpakan keganasan (perang sesame muslim-pent). Dua hal lainnya pasti akan terjadi, yaitu al-khasfu (gempa bumi) dan ar-rajmu (pelemparan bebatuan).”

Penjelasan:
Riwayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa hukuman-hukuman tersebut tidak disebutkan dalam konteks ancaman, melainkan isyarat bahwa pada masa mendatang hukuman-hukuman tersebut akan menimpa umat ini. Dua hukuman telah terjadi yaitu perpecahan umat menjadi banyak golongan, lalu terjadinya peperangan antar berbagai golongan tersebut. Tersisa dua hukuman, yaitu pelemparan dari langit dengan meteor atau batu-batu kecil, dan gempa serta penenggelaman ke perut bumi. Dalam banyak hadits telah ditegaskan bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah gempa bumi yang menimpa umat ini. Gempa terbesar yang paling penting ada tiga: gempa di timur, gempa di barat, dan gempa di jazirah Arab. Adapun hujan meteor atau komet dari angkasa, maka riwayat di atas mengisyaratkan bahwa hal itu pasti juga akan terjadi. Bukti-bukti situasi dan konteks ayat menunjukkan adanya keterkaitan antara dua pertanda ini. Boleh jadi gempa dahsyat terjadi akibat hujan meteor dari langit.
Allah SWT berfirman:
أَفَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنْ نَشَأْ نَخْسِفْ بِهِمُ الأرْضَ أَوْ نُسْقِطْ عَلَيْهِمْ كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ
Maka apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang ada di hadapan dan di belakang mereka? Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi atau Kami jatuhkan kepada mereka gumpalan dari langit. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Tuhan) bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya). (QS. Saba’ [34]: 9)

Penjelasan:
Ayat ini mengaitkan jatuhnya meteor dari langit dengan kehendak Allah SWT. Isyaratnya menunjukkan pada masa yang akan datang. Al-Kisaf adalah potongan-potongan (benda langit) yang jatuh dari langit. Isyarat akan terjadinya Al-Kisaf dalam ayat ini berbeda dengan isyarat akan terjadinya al-hashib. Sebab, al-kisaf adalah potongan-potongan besar yang lebih menyerupai meteor. Adapun al-hashib adalah bebatuan kecil.
Setelah menjelaskan kemungkinan terjadinya hujan meteor, ayat di atas mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa mengambil manfaat dan pelajaran dari tanda-tanda atau peringatan keras tersebut kecuali hamba yang bertaubat kepada Allah SWT, atau orang yang berilmu yang memahami kekuasaan dan sunah Allah SWT dalam mengatur alam semesta.

Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Akan terjadi pada umat ini – atau umatku: perawi ragu-ragu lafal mana yang lebih benar – gempa dahsyat, atau pengubahan bentuk, atau pelemparan (batu-batu dari langit) atas para pengingkar takdir.”

Dalam riwayat lain:
“Menjelang kiamat akan terjadi pengubahan bentuk, gempa dahsyat, dan pelemparan (hujan bebatuan dari langit).”

Dalam riwayat lain:
“Pada masa akhir umatku akan trjadi gempa dahsyat, pengubahan bentuk, dan pelemparan.”


Penjelasan:
Hadits di atas menjelaskan tiga bentuk siksaan Allah SWT yang akan menimpa sebagian umat ini, di antaranya adalah ‘pelemparan’, yaitu pelemparan bebatuan dari langit.

Thursday, 25 August 2016

Dampak kerusakan Suasana DI Akhir Zaman

Kerusakan yang bertumpuk-tumpuk, kezhaliman yang tindih-menindih, kesyirikan dan bid’ah yang merajalela, dan kemungkaran yang semakin sulit di bendung. Itulah rumitnya suasana fitnah di akhir Zaman. Kebenaran sulit dibedakan dari kebathilan, halal dan haram sulit dipisahkan, hal yang baik bercampur baur dengan hal yang buruk. Pada kebanyakan manusia mereka tertipu, terpedaya, dan terbawa oleh arus fitnah yang ada. Keimanan dan kekafiran seakan-akan bukan perkara yang besar bagi mereka, demi tetap hidup dan meraih kehidupan duniawi yang lebih baik, menjual agama tanpa harga pun tidak menjadi masalah.

Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah Shallahu’alaihi Wasallam bersabda :
Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datangnya berbagai fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, pada waktu pagi seseorang masih beriman, tetapi di sore hari sudah menjadi kafir; dan pada waktu sore hari seseorang masih beriman, kemudian pagi harinya sudah menjadi kafir.(HR. Muslim: Kitabul Iman no. 169, Tirmizi: Kitabul fitan no.2121, dan Ahmad no. 7687)

Dalam riwayat lain :
Dari Hudzaifah bin yaman bahwasannya Rasulullah bersabda :
Kelak Islam akan luntur sebagaimana lunturnya corak warna pakaian, sehingga tidak lagi di ketahui apa itu shaum, shalat, penyembelihan, dan sadaqah. Kitabullah benar-benar akan di angkat disuati malam, sehingga di muka bumi tidak akan tersisa walaupun sekedar satu ayatdarinya. Maka yang tersisa hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek yang telah tua renta. Mereka mengatakan, “Kami mendapati orang tua kami mengucapkan kalimat ini, kalimat Laa ilaaha illallahu,maka kami pun ikut-ikut mengucapkannya.(HR. Ibn Majah no. 4039 dan Al-Hakim. Sanadnya Shahih dan para perawinya adalah perawi Muslim. Dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz- Dzahabi, Al-Bhusairi dan Al-Albani. Dalam Silsilah Al-Hadits Ash- Shahihah no. 87.)

Jika Akhy Wa Ukhty Menganggap Blog ini Bermanfaat, Maka Bantulah Kami Untuk Menyebarkannya

Jazakallahu Khair

Sunday, 14 August 2016

Wasiat Rasulullah Untuk Umat Akhir Zaman

Kita sadar bahwa memang kita lah Umat Akhir Zaman.. yang di ketahanan iman ini bagai menggenggam Bara Api. 
Berikut kumpilan Sabda Rasulullah Saw Untu kita Umat Akhir Zaman :



Dari Ma’qil bin Yasar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
“ Beribadahlah pada waktu terjadi al Haraj (pembunuhan) seperti hijrah ke saya.” (HR Muslim, Turmudzi, dan Ibnu Majah) Dari Zubair bin Adly bahwa ia melaporkan kepada Anas setelah erdebatan, lalu Ia (Anas) berkata, “ Bersabarlah kalian !, Susungguhnya, tidak akan datang pada kalian suatu zaman kecuali yang lebih jelek daripadanya hingga kalian menjumpai Tuhan kalian. Ini saya dengar dari Nabi SAW.” (HR Bukhari dan Turmudzi)

Dari Tsauban ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah para pemimpin yang sesat. Jika meletakkan pedang pada umatku, ia tidak akan mengangkatnya sampai hari kiamat.” (HR Abu daud dan Ibnu Majah)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi dari Ishaq bin Abu Furat dari Al Maqburi dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (Sunan Ibnu Majah)

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra bahwa Rasulullah SAW bersabda , “ Bagaimana denganmu jika kamu berada di tengah kekacauan, janji janji dan amanat mereka abaikan, kemudian mereka berselisih seperti ini ?” Lalu, beliau menyilangkan antara jari jari. Abdullah bin Amr bertanya,” Lalu , dengan apa engkau menyuruhku?” Beliau menjawab, “Jagalah rumah, keluargamu, lidahmu, dan lakukanlah apa yang kamu tahu dan tinggalkan yang mungkar, serta berhati hatilah dengan urusanmu sendiri, lalu tinggalkanlah perkara yang umum “ (HR Abu Daud dan Nasa’i)Dari Hudzaifah bin al Yaman ra bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah setelah kebaikan akan datang kejahatan?” Beliau menjawab, “ Ya, banyak penyeru yang mengajak ke pintu jahanam, maka, barangsiapa yang mengijabahnya (mengikutinya), mereka akan dilemparkan ke dalamnya.” Aku bertanya,”Sifatkanlah mereka itu kepada kita.” Beliau SAW berkata,”Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan bahasa kita,” Aku berkata,”Lalu, kau suruh apa ketika aku melihatnya?” Beliau SAW menjawab, “Lazimilah (berpeganglah) pada jamaah muslimun dan imam mereka.” Aku berkata,” Jika tidak ada jamaah dan Imam?” Beliau SAW menjawab,”Jauhilah semua kelompok itumeskipun akar pohon melilitmu hingga maut menjemputmu, dan engkau tetap seperti itu.” (HR Muslim)Dari Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,” Wahai Abu Dzar, bagaimana kamu jika berada dalam kekacauan?” Lalu beliau SAW menyilangkan  jari jarinya. Abu Dzar berkata, “ Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku, ya Rasulullah?” beliau menjawab,”Bersabarlah ! bersabarlah ! manusia akan berpura pura dengan akhlak dan perbuatan mereka.” (HR Hakim dan Baihaqi)Sumber : mahir Ash Shufiy , Asyrath as Sa’ah al Alamat ash Shugra wa al Wustha